• HOME
  • MUSIC
  • PROJECTS
  • JOURNAL
  • ABOUT
  • CONTACT

AI & Me

Posted on 5 Aug at 6:56 pm

Aku mulai mengenal AI justru karena Suno.

Sekitar tahun 2024, saat Suno masih berada di versi 3.5, aku melihat iklannya di Facebook. Awalnya hanya iseng mencoba, lalu keterusan. Dari situlah semuanya dimulai.

Karena bergabung dengan berbagai komunitas AI di Facebook, aku mulai mengenal banyak aplikasi lain, mulai dari AI untuk membuat motion video, image generator, sampai AI assistant. Salah satunya adalah ChatGPT dari OpenAI.

Sejak saat itu, Suno dan ChatGPT menjadi dua “teman kerja” yang paling sering menemaniku berkarya.

Bukan berarti aku menganggap AI lain lebih buruk. Bahkan mungkin ada yang lebih unggul di bidang tertentu. Buatku, ini lebih soal timing.

Aku keburu nyaman.

Aku memang tipe orang yang malas berpindah-pindah aplikasi kalau fungsinya mirip. Setelah menemukan workflow yang cocok, biasanya aku akan bertahan di situ.

Selain itu, aku juga sering mendengar bahwa semakin sering kita menggunakan sebuah AI, semakin baik AI tersebut memahami cara kita berkomunikasi dan preferensi kita. Entah benar sepenuhnya atau tidak, pengalamanku memang terasa seperti itu. Semakin lama aku menggunakan ChatGPT, semakin jarang aku harus menjelaskan ulang apa yang kuinginkan. Rasanya percakapan kami menjadi lebih nyambung.

Entah ini karena riwayat percakapan, fitur memori, atau hanya perasaanku saja, tapi semakin lama memakai akun yang sama, aku merasa AI semakin memahami cara aku bertanya dan jenis jawaban yang kuharapkan. Akibatnya, aku jadi jarang harus menjelaskan semuanya dari awal.

Lucunya, aku juga mengalami masa-masa ketika ChatGPT sedang “terobsesi” dengan kalimat-kalimat seperti…

“Neon ungu di langit malam kota.”     😂 Kalau kalian sudah lama menggunakan ChatGPT, mungkin tahu era itu. Saking seringnya muncul, tanpa sadar beberapa lirik ku juga ikut dipenuhi kata neon. Sampai sekarang kalau membaca lirik-lirik lamaku, aku cuma bisa tertawa.

Untungnya, model AI terus berkembang. Aku juga ikut belajar berkembang bersamanya. Sekarang, daripada meminta AI langsung menuliskan semuanya, aku lebih sering mengajaknya berdiskusi, membedah lagu, menganalisis genre, atau membantu merapikan ide-ide yang masih berantakan di kepalaku. Aku belajar menyampaikan ide dengan lebih baik. AI juga terus berkembang. Di antara keduanya, workflow-ku ikut berubah.

Pada akhirnya, bagiku AI bukan pengganti kreativitas.

AI hanyalah partner berpikir.

Dan sejauh ini, partner yang paling sering menemaniku berkarya masih bernama Suno dan ChatGPT.

Tools yang menjadi bagian perjalananku:

  • ​    Suno ●​    ChatGPT ●​    Flow Music ●​    Googlelab Flow ●​    Audacity ●​    BandLab ●​    DistroKid ●​    Spotify for Artists ●​    Gemini ●​    Once a Grok

Semua tools di atas saya gunakan berdasarkan kebutuhan dan pengalaman pribadi. Tidak ada kerja sama berbayar. Kalau suatu hari daftarnya berubah, berarti workflow saya ikut berkembang.

Salah satu hal yang sering kulihat di komunitas AI adalah banyak orang membuat banyak akun hanya untuk mendapatkan credit atau token gratis. Tidak ada yang salah dengan itu. Aku juga paham, tidak semua orang ingin atau mampu berlangganan.

Tapi kadang aku melihat sesuatu yang lucu.

Setelah berpindah-pindah akun berkali-kali, mereka berharap AI langsung memahami gaya menulis, preferensi musik, atau kebiasaan mereka. Ketika hasilnya tidak sesuai harapan, AI yang disalahkan.

Dari pengalaman ku, membangun workflow dengan AI itu sedikit mirip seperti bekerja dengan rekan baru. Di awal, kita harus banyak menjelaskan.

Menjelaskan cara berpikir kita.

Menjelaskan selera kita.

Menjelaskan apa yang kita suka dan tidak suka.

Semakin sering berdiskusi dalam konteks yang berkesinambungan, percakapannya pun terasa semakin mengalir.

Jadi sebelum menyimpulkan bahwa sebuah AI “bodoh”, mungkin ada baiknya kita bertanya dulu:

Apakah aku sudah memberinya cukup konteks untuk memahami apa yang sebenarnya kuinginkan?

Aku tidak pernah setia pada sebuah tools. Aku setia pada rasa yang ingin kusampaikan. Selama sebuah tools masih membantuku menyampaikan rasa itu, ia akan tetap menjadi bagian dari workflow-ku.

Previous Journal
Musik adalah rasa.
Next Journal
Emosi Sama AI

Recent Journal

  • AMIRA, PROMPTNYA APAAN SIH? August 11, 2026
  • Bedah Lagu & Instrument August 11, 2026
  • Datasets for Goals August 11, 2026
  • DNA Sebuah Lagu – Mengapa Musik Punya Identitas August 11, 2026
  • Pengaruh Budaya dalam Sebuah Lagu August 11, 2026

Categories

  • AI Workflow (6)
  • Lyrics & Vocal (2)
  • Prompt & Production (2)
  • Songwriting (3)
  • Sound & Culture (4)
  • Stories (3)
Spotify
Apple Music
YouTube
Instagram
Facebook
X
Suno
Flowmusic

Amira Uwu

Exploring World Cultures Through AI-Generated Music.

© 2026 Amira Uwu. All rights reserved.

Exploring World Cultures Through AI-Generated Music.
© 2026 Amira Uwu. All rights reserved.