• HOME
  • MUSIC
  • PROJECTS
  • JOURNAL
  • ABOUT
  • CONTACT

AI Tidak Menciptakan Lagu untukku

Posted on 11 Aug at 12:13 am

Sering sekali aku mendengar orang berkata, “Bikin musik pakai AI itu gampang.” Mungkin karena yang mereka lihat hanya beberapa kalimat prompt, lalu beberapa menit kemudian sebuah lagu sudah jadi.

Aku tidak menyalahkan anggapan itu. Dari luar memang terlihat sederhana.

Namun setelah benar-benar menjalaninya setiap hari, aku menyadari bahwa prosesnya tidak sesederhana itu.

Memang benar, aku tidak memainkan gitar. Aku tidak duduk di depan piano. Aku tidak belajar vokal secara formal. Bahkan banyak pengguna AI music sepertiku hanyalah pendengar musik yang mencintai lagu-lagu bagus.

Tetapi justru karena itulah, kami harus belajar banyak hal yang sebelumnya tidak pernah kami pikirkan.

Sebelum AI mulai bernyanyi, aku harus lebih dulu menyusun lagu itu di dalam kepala.

Aku mencari kata demi kata hingga membentuk suasana yang ingin kurasakan. Aku membayangkan bagaimana kalimat itu akan dinyanyikan. Kadang aku menggumamkannya sendiri untuk mencari ritme yang pas. Aku juga harus memikirkan tanda baca, jeda napas, pemenggalan suku kata, bahkan pemilihan huruf tertentu agar AI mengucapkannya sesuai yang kubayangkan.

Lalu proses generate dimulai.

Bukan sekali.

Kadang puluhan kali.

Kadang ratusan.

Karena lagu yang pertama muncul hampir tidak pernah langsung menjadi lagu yang kupilih.

Di sinilah kurasi menjadi sangat penting.

Kurasi bukan sekadar memilih hasil yang paling bagus. Kurasi adalah proses menemukan melodi yang akhirnya menetap di kepala. Saat satu versi berhasil membuatku berkata, “Nah… ini dia,” sejak saat itu versi itulah yang menjadi referensiku.

Selain itu, aku juga harus belajar bahasa baru: bahasa instrumen.

Dulu aku mungkin hanya tahu sebuah suara terdengar indah. Sekarang aku mulai bertanya:

“Suara ‘nguwek-nguwek’ itu dimainkan alat apa?”

“Yang bunyinya trilililing itu apa?”

“Yang terdengar seperti kurulung…”

“Yang trok… trok… trok… itu instrumen apa?”

Lucunya, aku sering menjelaskan bunyi kepada AI menggunakan onomatope seperti itu.

Kalau Jipi belum yakin, aku biasanya memberi contoh lagu dari YouTube atau Spotify yang memiliki suara serupa. Dari sana barulah kami bisa menelusuri nama instrumennya, teknik permainannya, atau budaya asal bunyi tersebut. Kadang kalau butuh referensi yang sangat spesifik dari video, aku juga membandingkannya dengan Gemini karena terhubung langsung dengan ekosistem YouTube.

Lama-lama aku sadar, ternyata pekerjaanku bukan hanya menulis lirik.

Aku juga sedang membangun dataset di dalam kepalaku.

Semakin banyak musik yang kudengar, semakin banyak instrumen yang kukenal, semakin luas referensi budaya yang kupelajari, semakin mudah pula aku menjelaskan kepada AI suara seperti apa yang sedang kucari.

Karena itu, ketika orang berkata membuat lagu dengan AI itu mudah, aku hanya tersenyum.

Menurutku, yang berubah bukan proses kreatifnya.

Yang berubah hanyalah alatnya.

Seorang pencipta lagu mungkin menulis not balok, lalu menjelaskan idenya kepada pemain gitar, bassist, drummer, dan vokalis.

Aku melakukan hal yang mirip.

Bedanya, “band”-ku adalah AI.

Aku tetap harus menjelaskan suasana yang kuinginkan, memilih ritme, mengarahkan pelafalan, mencari instrumen yang tepat, melakukan kurasi, lalu memutuskan versi mana yang layak disebut lagu.

AI memang mempercepat proses produksi.

Tetapi AI tidak menggantikan proses mengambil keputusan.

Dan menurutku, justru di situlah letak kreativitas manusia. Sebuah Analogi Bayangkan ada dua orang yang sama-sama ingin membangun sebuah rumah.

Orang pertama menggunakan gergaji tangan, palu, dan paku.

Orang kedua menggunakan mesin pemotong, bor listrik, dan alat modern.

Rumah yang mereka bangun tetap membutuhkan rancangan, selera, keputusan, dan kemampuan memilih.

Peralatannya berbeda.

Tetapi orang yang memutuskan bentuk rumah itu tetap manusia.

Begitu pula dengan AI dalam musik.

AI bukanlah komposer yang menggantikan manusia.

Ia lebih mirip sekumpulan musisi studio yang menunggu arahan.

Kalau arahannya kabur, hasilnya juga akan kabur.

Kalau arahannya jelas, penuh referensi, dan melalui proses kurasi yang panjang, barulah sebuah lagu yang benar-benar enak didengar mulai lahir.

Pada akhirnya, tujuan kami sederhana.

Bukan membuktikan bahwa AI lebih hebat daripada musisi.

Bukan pula mengatakan bahwa AI lebih sulit daripada cara konvensional.

Kami hanya ingin membuat lagu yang enak didengar.

Dan seperti semua proses kreatif lainnya, jalan menuju lagu itu tetap membutuhkan waktu, latihan, referensi, kesabaran, dan ribuan keputusan kecil yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain.

Previous Journal
Mengapa Lagu AI Pertama Sulit Dikalahkan?
Next Journal
Singable Adaptation – Menulis Ulang Lagu, Bukan Menerjemahkannya

Recent Journal

  • AMIRA, PROMPTNYA APAAN SIH? August 11, 2026
  • Bedah Lagu & Instrument August 11, 2026
  • Datasets for Goals August 11, 2026
  • DNA Sebuah Lagu – Mengapa Musik Punya Identitas August 11, 2026
  • Pengaruh Budaya dalam Sebuah Lagu August 11, 2026

Categories

  • AI Workflow (6)
  • Lyrics & Vocal (2)
  • Prompt & Production (2)
  • Songwriting (3)
  • Sound & Culture (4)
  • Stories (3)
Spotify
Apple Music
YouTube
Instagram
Facebook
X
Suno
Flowmusic

Amira Uwu

Exploring World Cultures Through AI-Generated Music.

© 2026 Amira Uwu. All rights reserved.

Exploring World Cultures Through AI-Generated Music.
© 2026 Amira Uwu. All rights reserved.