• HOME
  • MUSIC
  • PROJECTS
  • JOURNAL
  • ABOUT
  • CONTACT

Panic Attack

Posted on 5 Aug at 7:25 pm

“Jangan tunggu suaramu sempurna untuk mulai bereksperimen dengan AI. Kadang yang dibutuhkan bukan suara paling indah, melainkan suara yang paling mencerminkan dirimu.”

Duh… lagu ini ya.

Di balik judulnya yang terdengar sederhana, sebenarnya ada cerita yang cukup dalam. Daripada panik terus, aku waktu itu memilih mengubah rasa panik itu menjadi sebuah lagu.

Lagu Panic Attack pertama kali lahir sekitar tahun 2024. Jujur aja, liriknya merupakan hasil brainstorming bareng ChatGPT zaman dia masih “cupu”. 🤣 Karena kemampuan bahasa Inggrisku terbatas, aku lebih banyak menceritakan apa yang sedang kurasakan kepada Jipi—begitu aku memanggil ChatGPT.

Setelah liriknya jadi, aku mencoba membacanya berulang-ulang, lalu mulai mencari melodi yang terasa pas. Dengan modal nekat, aku merekam suaraku hanya menggunakan voice note WhatsApp. Kualitasnya? Ya… seadanya. Bahkan mungkin jauh dari kata layak untuk dijadikan lagu.

Lalu datanglah momen yang mengubah semuanya.

Saat itu Suno baru saja merilis fitur Upload & Record di versi 3.5. Aku mengunggah rekaman voice note itu ke Suno, lalu mulai bereksperimen. Dari situlah lagu ini berkembang sedikit demi sedikit.

Kalau kamu mendengarkan evolusi lagu ini, kamu bisa mengikuti seluruh prosesnya—mulai dari hasil extend suara asli ku, berbagai versi yang pernah kubuat, sampai akhirnya lagu ini ku-mashup dengan lagu baruku yang melodinya juga kurekam menggunakan suaraku sendiri.

Kalau dipikir-pikir sekarang, rasanya agak sulit dipercaya.

Dengan kualitas rekaman yang hanya berasal dari voice note WhatsApp dan suara mentah yang jauh dari sempurna, rasanya hampir mustahil lagu itu bisa berubah menjadi sebuah track seperti sekarang tanpa bantuan AI.

Di titik itu aku benar-benar merasa AI bukan menggantikan kreativitas manusia, tetapi memperluas kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan.

Aku juga ingin berterima kasih kepada DJ Jack. Sekarang orangnya sudah menghilang dari daftar teman Facebook-ku, tapi waktu itu dia tertarik dengan track ini dan secara sukarela melakukan mastering tanpa pernah kuminta.

Versi pertama yang diunggah ke aggregator pun masih sangat polos. Cover art-nya bahkan hanya menggunakan gambar default dari SoundOn. 🤣 Jujur saja, tampilannya benar-benar seadanya.

Tapi kalau dipikir lagi… mungkin memang cocok.

Karena rasa panik memang sering kali tidak punya bentuk yang jelas.

Yang paling mengejutkan justru respon orang-orang.

Waktu itu komunitas musik AI masih sangat aktif membuat playlist dan saling mendukung karya satu sama lain. Panic Attack mendapat banyak pujian, bahkan sempat masuk ke Top Chart Radio Hit AI.

Dan sampai hari ini, lagu itu masih bertahan sebagai lagu paling populer di daftar Popular Releases milikku.

Bukan karena kualitas rekamannya paling bagus.

Bukan juga karena vokalku paling hebat.

Melainkan karena lagu itu menjadi pengingat bahwa sebuah karya tidak selalu harus lahir dari kondisi yang sempurna. Kadang, keberanian untuk memulai dengan apa yang kita punya justru menghasilkan sesuatu yang paling jujur.

Listen to Panic Attack’s Artifacts here

[https://suno.com/playlist/dd4cbfeb-8800-49a8-b173-8171a0664293]

Previous Journal
Emosi Sama AI
Next Journal
Musik AI, Buku Harian yang Bisa Didengarkan

Recent Journal

  • AMIRA, PROMPTNYA APAAN SIH? August 11, 2026
  • Bedah Lagu & Instrument August 11, 2026
  • Datasets for Goals August 11, 2026
  • DNA Sebuah Lagu – Mengapa Musik Punya Identitas August 11, 2026
  • Pengaruh Budaya dalam Sebuah Lagu August 11, 2026

Categories

  • AI Workflow (6)
  • Lyrics & Vocal (2)
  • Prompt & Production (2)
  • Songwriting (3)
  • Sound & Culture (4)
  • Stories (3)
Spotify
Apple Music
YouTube
Instagram
Facebook
X
Suno
Flowmusic

Amira Uwu

Exploring World Cultures Through AI-Generated Music.

© 2026 Amira Uwu. All rights reserved.

Exploring World Cultures Through AI-Generated Music.
© 2026 Amira Uwu. All rights reserved.