Penyair dan Penulis Lirik

Selama ini aku masih egois dengan semua lirik yang kutulis. Rasanya aku tidak terlalu peduli apakah orang akan mengerti atau tidak. Yang kupikirkan hanyalah bagaimana lirikku—kata-kataku—bisa terwadahi dengan “enak” di dalam nada yang terkadang sangat random saat di-generate oleh AI.
Aku bukan musisi, bukan penyair, apalagi sastrawan. Namun, dalam keseharianku, aku sering tanpa sadar “me-nada-kan” ucapan kepada orang-orang di sekitarku. Misalnya kalimat sederhana seperti, “mandi yu… nanti acem yu…”.
Dari situ aku mulai berpikir, seharusnya AI juga bisa menerjemahkan nada yang ada di kepalaku, asalkan aku cukup jelas memberi petunjuk tentang rasa yang ingin kusampaikan. Misalnya dengan menulis [nada mengajak] sebelum kalimat itu. Pengalamanku, AI akan membacakannya dengan nada yang terdengar ceria dan mengajak. Bahkan fonetik seperti “yu” serta tanda titik-titik yang memanjangkan nafas ikut mempengaruhi bagaimana AI melantunkannya.
Pengalaman lain yang cukup menarik adalah saat aku mencoba mengubah puisi Jalaluddin Rumi menjadi sebuah lagu. Aku menyalin begitu saja puisi terjemahannya, tanpa memikirkan tanda baca maupun jumlah suku kata di setiap bait. Hasilnya memang indah, tetapi terasa dipaksakan. Puisinya se-olah dipaksa mengikuti musik, padahal ia sudah memiliki iramanya sendiri.
Aku tidak ingin merusak keindahan puisi itu. Akhirnya aku memilih meminta AI membacakannya saja dengan perintah [SPOKEN], lalu ku iringi musik piano bergaya Yiruma. Rasanya jauh lebih tepat. Aku bisa meresapi setiap kata, setiap jeda, tanpa harus mengorbankan keutuhan puisinya.
Dari pengalaman-pengalaman itu, aku mulai menyadari bahwa penyair dan penulis lirik adalah dua hal yang berbeda. Keduanya sama-sama bekerja dengan kata-kata yang indah, tetapi memiliki tujuan yang berbeda.
Penyair menulis agar kata-kata itu hidup ketika dibaca.
Sementara penulis lirik menulis agar kata-kata itu hidup ketika dinyanyikan.
Sebuah puisi belum tentu menjadi lirik yang baik, sebagaimana lirik yang sangat kuat belum tentu memberikan pengalaman yang sama ketika hanya dibaca sebagai puisi. Bukan karena salah satunya lebih baik, melainkan karena keduanya memang lahir untuk medium yang berbeda.
Recent Journal
- AMIRA, PROMPTNYA APAAN SIH? August 11, 2026
- Bedah Lagu & Instrument August 11, 2026
- Datasets for Goals August 11, 2026
- DNA Sebuah Lagu – Mengapa Musik Punya Identitas August 11, 2026
- Pengaruh Budaya dalam Sebuah Lagu August 11, 2026
Categories
- AI Workflow (6)
- Lyrics & Vocal (2)
- Prompt & Production (2)
- Songwriting (3)
- Sound & Culture (4)
- Stories (3)