• HOME
  • MUSIC
  • PROJECTS
  • JOURNAL
  • ABOUT
  • CONTACT

Pengaruh Budaya dalam Sebuah Lagu

Posted on 11 Aug at 12:28 am

Saat ini Suno sudah bisa menghasilkan lagu dangdut yang terdengar sangat meyakinkan. Cengkoknya ada, instrumennya terasa dangdut, bahkan nuansa vokalnya pun semakin mendekati penyanyi asli.

Tapi buatku, pertanyaannya bukan lagi: “Bisa bikin dangdut nggak?”

Pertanyaannya adalah:

“Bagaimana memberi jiwa dan aura ke lagu itu?”

Aku memang suka dangdut, tapi itu bukan genre utamaku. Justru karena bukan zona nyaman ku, dangdut menjadi salah satu tantangan paling menarik dalam era AI music generator.

Aku sudah mendengar banyak lagu dangdut AI yang bagus. Secara teknis keren. Tapi sering kali rasanya masih seperti karaoke yang sangat rapi. Salah satu penyebabnya mungkin karena liriknya dibuat terlalu instan, misalnya langsung menyalin hasil dari ChatGPT atau Gemini tanpa benar-benar memperhatikan fonetik, penempatan suku kata, ritme pengucapan, dan bagaimana setiap kata akan “jatuh” ke dalam melodi.

Padahal, menurutku, lagu bukan hanya soal arti.

Lagu adalah cara sebuah kata diucapkan.

Aku kasih contoh salah satu project kecilku.

Namanya KING ZAKR.

Ceritanya sederhana: seorang “King Nassar wannabe.”    🤣 Kalian pasti tahu King Nassar. Salah satu penyanyi dangdut Indonesia yang punya karakter vokal sangat kuat. Melismanya panjang-panjang, vibratonya dramatis, suaranya bukan tipe halus, tapi justru sedikit serak, penuh tenaga, dan mampu mencapai nada tinggi dengan sangat ekspresif.

Kebetulan aku memang sejak lama suka musik Arab. Kalau mampir ke profil Suno ku, kalian akan menemukan banyak sekali lagu bertema Arabic pop, Rai, maupun Khaleeji.

Awalnya lagu ini sebenarnya hanyalah Arabic pop biasa.

https://suno.com/s/eJDCyWItxwNfTMCR Kalau didengar, nuansanya sangat mengingatkanku pada Amr Diab. Pop Arab yang mainstream, enak didengar, dan di Suno sendiri lagu dengan karakter seperti ini jumlahnya sudah sangat banyak.

Lalu aku kepikiran sesuatu.

Bagaimana kalau lagu ini diadaptasi ke bahasa Indonesia?

Lucunya, saat proses adaptasi, aku tidak terlalu mengejar terjemahan yang benar-benar harfiah. Yang lebih kupikirkan justru fonetiknya.

Bagaimana jumlah suku katanya tetap pas.

Bagaimana iramanya tetap mengalir.

Bagaimana vokal beraksen Timur Tengah terdengar alami saat menyanyikan bahasa Indonesia.

Hasil adaptasinya menjadi seperti ini.

https://suno.com/s/9y7CIsdVBSJCBTyt

Menurutku unik sekali.

Rasanya seperti penyanyi Rai dari Aljazair atau Mesir dipaksa menyanyikan lagu berbahasa Indonesia. Ada aksen asing yang justru membuat lagunya punya karakter baru.

Setelah berhari-hari mendengarkannya berulang-ulang…

Aku tiba-tiba berpikir,

“Lho… ini kalau dinyanyikan King Nassar kayaknya cocok banget.”

Ya sudah.

Di era AI ini boleh lah ya sesekali berhalu.   🤣 Justru kadang imajinasi seperti itu bisa memancing kreativitas.

Aku lalu brainstorming panjang dengan ChatGPT mengenai karakter vokal King Nassar. Kami membahas melisma, vibrato, teknik kepala, tekstur suara, bahkan kemungkinan pengaruh akar musik Timur Tengah yang memang terasa cukup kuat dalam gaya bernyanyinya.

Dari situ akhirnya lahirlah prompt berikut.

vocalist: Dangdut-style vocal ornamentation, over-the-top cascading melismas, sweeping portamento, high pitch, full-throated gritty Rai, powerful Algerian Rai quality, dramatic head-voice inflections, bouncing vibrato, and emotionally charged sustained notes that bloom and ripple at the end of every phrase.

Lalu lagu itu di-cover ulang menggunakan prompt tersebut.

Hasil akhirnya bisa didengar di sini.

https://suno.com/s/I6xSDN2XAQR33Xuz

Menurutku?

Sudah lumayan mendekati aura King Nassar.

Tentu bukan berarti menjadi suara beliau. Yang kucari memang bukan meniru seseorang secara persis, melainkan menangkap energi, ekspresi, dan rasa yang membuat sebuah karakter vokal terasa hidup.

Dari eksperimen kecil ini aku jadi semakin sadar satu hal.

Musik selalu membawa jejak budaya.

Dangdut sendiri lahir dari perjalanan panjang berbagai pengaruh yang masuk ke Indonesia. Ada unsur Melayu, India, Timur Tengah, hingga musik Barat yang kemudian berbaur dan akhirnya melahirkan identitasnya sendiri.

Sejarah lengkapnya bisa kalian cari sendiri di Google. Di jurnal ini aku tidak ingin terlalu banyak menggurui.

Aku hanya ingin berbagi pengalaman tentang bagaimana mencoba “menyematkan aura” ke dalam lagu AI.

Karena menurutku…

AI memang bisa menghasilkan nada.

AI bisa menghasilkan instrumen.

AI bahkan bisa menghasilkan suara yang sangat indah.

Tetapi rasa sering kali muncul ketika kita memahami budaya yang melahirkan musik itu.

Semakin kita mengenal akar sebuah genre, semakin mudah kita menemukan detail-detail kecil yang membuat lagu terasa hidup.

Dan pada akhirnya… Lagu tetaplah soal rasa.

Soal mood.

Soal pengalaman.

Soal telinga masing-masing.

Tidak ada rumus yang benar-benar mutlak.

Yang ada hanyalah perjalanan untuk terus mendengar, mencoba, gagal, lalu menemukan sesuatu yang terdengar… “iya, ini dia.”

Mungkin itulah bagian paling menyenangkan dari berkarya bersama AI.

Previous Journal
Percobaan Gila Amira
Next Journal
DNA Sebuah Lagu – Mengapa Musik Punya Identitas

Recent Journal

  • AMIRA, PROMPTNYA APAAN SIH? August 11, 2026
  • Bedah Lagu & Instrument August 11, 2026
  • Datasets for Goals August 11, 2026
  • DNA Sebuah Lagu – Mengapa Musik Punya Identitas August 11, 2026
  • Pengaruh Budaya dalam Sebuah Lagu August 11, 2026

Categories

  • AI Workflow (6)
  • Lyrics & Vocal (2)
  • Prompt & Production (2)
  • Songwriting (3)
  • Sound & Culture (4)
  • Stories (3)
Spotify
Apple Music
YouTube
Instagram
Facebook
X
Suno
Flowmusic

Amira Uwu

Exploring World Cultures Through AI-Generated Music.

© 2026 Amira Uwu. All rights reserved.

Exploring World Cultures Through AI-Generated Music.
© 2026 Amira Uwu. All rights reserved.